Jumat, 20 Januari 2017

Papeda untuk Cepat Gemuk




                Di tengah-tengah derasnya globalisasi terhadap menjamurnya berbagai makanan mancanegara di Indonesia yang bisa bikin badan cepat gemuk, rasa kagum dan bangga harus kita tujukan kepada saudara-saudara kita di berbagai daerah yang tetap memelihara eksistensi makanan tradisionalnya. Beberapa makanan tradisional telah dibuktikan secara turun-temurun mampu mendukung produktivitas kerja, tingkat kecerdasan, semangat juang, tampilan fisik yang tegap dan kuat, serta kesehatan tubuh yang sangat prima. Oleh karena itu, patut disayangkan apabila budaya makan tradisional tersebut harus ditukar dengan budaya makan modern yang mengacu ke masyarakat Barat.
                Saat ini, kelompok masyarakat tertentu di Indonesia banyak yang mengidap penyakit “modern” yang dikenal istilah disease of Western Civilization, yaitu suatu penyakit yang timbul akibat mengimpor budaya makan ala Barat, seperti berbagai fast food yang padat lemak, protein, gula, dan garam, tetapi miskin vitamin, mineral dan serat pangan. Termasuk ke dalam kelompok penyakit tersebut antara lain adalah diabetes, hipertensi, gangguan ginjal, batu empedu, radang usus buntu, kanker usus besar, jantung koroner, stroke, divertikulosis, hiatus hernia, hemoroid, dan penyakit pembuluh darah iskemik. Kondisi tersebut timbul karena pemakaian bahan asal ternak dan tepung halus yang berlebih, tetapi sangat minimal dalam hal bahan berkarbohidrat kompleks, sayuran, dan buah-buahan.
                Seperti halnya pada masyarakat Jepang, Korea, dan China, kita pun harus bangga dengan makanan tradisional yang kita miliki. Sebagai Negara kepualauan di daerah tropis, kita sangat diuntungkan dari segi sumber daya alam. Kombinasi bahan pangan asal daratan tentu sangat bagus untuk dikombinasikan dengan pangan asal lautan. Konsep itulah yang dianut oleh saudara-saudara kita di Maluku, Papua, dan beberapa daerah lainnya untuk mengombinasikan sagu (yang merupakan sumber karbohidrat) dengan ikan laut (sebagai sumber protein). Salah satu contoh makanan tradisional Indonesia yang merupakan bahan dasar sagu adalah papeda.
Potensi Sagu
          Sagu adalah tanaman asli Asia Tenggara dengan wilayah tanaman yang terluas berada di Indonesia. Sagu tumbuh di daerah rendah sampai kira kira 1,200 meter di atas permukaan laut. Tanaman sagu atau rumbia merupakan salah satu tanaman dari family Palmae yang mempunyai batang besar, tegap, mencapai ketinggian 10-12 meter, mempunyai isi yang lembut dengan kandungan pati yang sangat tinggi. Semua bagian rumbia dapat dimanfaatkan, mulai dari umbut, isi batang, kulit batang, buah, sampai daunnya.
                Dari Sembilan spesias sagu, hanya dua spesies yang memiliki nilai ekonomi tinggi di Indonesia, yakni Mtroxylon sagu Rottb (tidak berduri) dan Metroxylon rumphii Mart (berduri). Sebaran produksinya adalah di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Riau), Jawa (Banten, Bogor, Sukabumi), Kalimantan (Lembah Mahakam, Barito, Kapuas, dan Kalimantan Tengah), Sulawesi (Sulawesi Tenggara, Bone, Pare-pare, Minahasa Timur, Sulawesi Tengah), Maluku (Seram, Ambon, Buru, Halmahera), Papua (Sorong, Painai, Waropen, Membramo, Sentani, Fakfak, Merauke).
                Walaupun sebaran tumbuhnya sangat luas dan produksinya cukup tinggi, pemanfaatannya masih sangat terbatas pada produk tradisional yang berskala kecil. Hanya di beberapa daerah. Seperti di Papua dan Maluku, sagu telah digunakan sebagai bahan makanan pokok.
Nilai Gizi Sagu dan Papeda
                Tepung sagu potensial sebagai sumber karbohidrat, yaitu mengandung 84,7 g / 100 gram bahan. Kadar karbohidrat, tersebut setara dengan yang terdapat pada tepung beras, singkong, dan kentang. Dibandingkan dengan tepung jagung dan tepung terigu, maka kandungan karbohidrat tepung sagu relatif tinggi. Kandungan energi dalam 100 gram tepung sagu (353 kkal) hampir setara dengan bahan pangan pokok lain berbentuk tepung, seperti: beras. Jagung, singkong, kentang, dan terigu
                Sagu merupakan bahan pangan yang sangat miskin akan protein. Kandungan protein sagu hanya 0,7 g/100 gram bahan, hampir setara dengan kadar protein tepung kentang dan singkong, tetapi jauh lebih rendah dibandingkan tepung beras, jagung, dan terigu. Ditinjau dari kadar vitamin dan mineral pun, sagu memiliki kadar yang lebih rendah dibandingkan bahan makanan pokok lainnya. Secara lengkap hal tersebut dapat dilihat pada Tabel.
                Menyadari potensi gizi sagu yang tidak selengkap dan sebaik bahan makanan pokok lain, maka dalam praktiknya sagu harus dikonsumsi bersama-sama dengan bahan-bahan lain yang lebih baik kadar gizinya. Konsep diversifikasi konsumsi pangan yang demikian itu merupakan langkah tepat menuju tercapainya pola makan sehat dan gizi seimbang. Untungnya, masyarakat di Maluku dan Papua secara turun-temurun telah menerapkan konsep diversifikasi tersebut, yaitu mengombinasikan sagu dengan ikan (sebagai sumber protein) dan berbagai sayuran (sebagai sumber vitamin, mineral, antioksidan, dan serat pangan).
                Konsep penganekaragaman konsumsi pangan yang tidak hanya bertumpu pada satu jenis bahan pangan tertentu (yaitu beras) seperti yang dilakukan dalam bentuk papeda, harus dicontoh dan diteladani oleh masyarakat di daerah-daerah lain. Hal tersebut penting dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan pangan (food availability), kualitas pangan (food quality), kemudahan memperoleh pangan (food accessibility), serta sekaligus meningkatkan ketahanan pangan (food security) bangsa Indonesia. Dengan cara itulah kita akan bangga sebagai negara agraris yang mandiri dalam pengadaan pangan.
                Kenyataan telah menunjukkan bahwa masyarakat yang mengonsumsi papeda secara lengkap dengan lauk pauknya, tidak pernah menghadapi masalah kekurangan zat gizi. Sebaliknya itu merupakan cara agar cepat gemuk. Sebagian mereka yang terbiasa makan papeda, tumbuh secara wajar dengan postur tinggi dan tegap laksana pohon sagu, segar-bugar sebagaimana hijau dan ranumnya sayuran yang dimakan, serta memiliki kinerja yang selalu lincah dan bersemangat ibarat ikan laut yang berenang-renang bebas di samudra luas.
                Kita harus meyakini bahwa selama batang sagu masih berdiri tegak, maka tidak akan pernah ada kelaparan “where Metroxylon sagu grows, nobody ever goes hungry”. Selamat menikmati papeda berkuah colo-colo…..

Tabel 1 Komposisi Gizi Tepung Sagu Dibandingkan Tepung Jenis Lainnya
Kandungan gizi per 100 gram bahan
Tepung Sagu
Tepung beras
Tepung jagung
Tepung Singkong
Tepung Kentang
Tepung terigu
Energi (kkal)
353
364
355
363
347
365
Protein (g)
0,7
7,0
9,2
1,1
0,3
8,9
Lemak (g)
0,2
0,5
3,9
0,5
0,1
1,3
Karbohidrat (mg)
84,7
80,0
73,7
88,2
85,6
77,3
Kalsium (mg)
11
5
10
84
20
16
Fosfor (mg)
13
140
256
125
30
106
Besi (mg)
1,5
0,8
2,4
1,0
0,5
1,2
Vitamin A (SI)
0
0
0
0
0
0
Vitamin B1 (mg)
0,01
0,12
0,38
0,04
0,04
0,12
Vitamin C (mg)
0
0
0
0
0
0
Air (g)
14,0
12,0
12,0
9,1
13,0
12,0
Sumber : Direktorat Gizi, Depkes (1992)

Untuk extra tambahan gizi, konsumsilah obat penggemuk badan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar